Kisahku Dengan Saudara Kembarku #2
Thursday, November 13, 2014 | 2:42 AM | 0 comments
Terpaksa, Nandya menendangku dan berlari membawa kucing itu. Sungguh kejam dia! Dia memang tidak punya hati! Aku langsung berlari kearah kamarnya, namun, dikunci. Aku melihat dari lubang pintu, dia bersenang-senang dengan kucing itu. Aku ingin menangis, namun aku tahan.***
Siangnya, aku menghabiskan waktuku seharian dengan menonton TV. Aku malas memikirkan soal Nanda kucingku itu. Tiba-tiba..
"Kucing ini akan selamanya di kamarku. Kamu tidak boleh mengambilnya. Kalau kamu mengambilnya, akan aku usir kamu dari sini" ucapnya.
"Usir? Usir saja aku. Nanti kamu juga yang kena marah" jawabku santai. Sebenarnya aku ingin menangis.
"Kamu berani ngomong sama aku, nih?" tanyanya ketus.
"Sini, berikan remotenya!" ucapnya lagi. Karena aku tidak ingin memberikannya, dia menariknya dengan paksa sampai aku terjatuh.
"Awas! Aku mau duduk disitu!" perintahnya.
Aku jadi seperti babu saja! keluhku dalam hati.
***
Jam setengah 2 siang, Ibuku baru pulang dari rumah teman sekantornya. Biasalah, ada tugas penting untung besok.
"Mana Nindya? Kucing siapa itu?" tanya Ibu heran.
"Nindya ada di kamar kok, Bu. Kucing ini aku temuin di halaman depan rumah," jelas Nandya.
"Oh, namanya Nanda, ya? Bagus" senyum Ibu.
"Hehe, iya" jawab Nandya lagi.
Nindya mengintip dari lubang pintu. Padahal, akulah yang menemukan duluan, andaikan Ibu mengerti perasaanku. Aku langsung membuka buku diary-ku. Aku menulis apa yang terjadi akhir-akhir ini. Setelah menulis, aku pergi ke ruang makan karena lapar.
"Nindya, kamu ngapain di kamar?" tanya Ibu. Ibu khawatir melihat mukaku yang pucat dan kelihatan seperti menangis.
"Eh, aku nggak ngapa-ngapain kok, Bu. Aku tadi habis main game aja" jawabku bohong.
"Oh, yaudah. Makan dulu, yuk! Ada ikan goreng nih" ajak Ibu.
"Iya.." jawabku. Nandya tersenyum kejam melihatku.
***
Setelah selesai makan siang, aku kembali ke kamar. Aku tidak bisa menahan tangis dan kepedihan ini. Sakit hati! Ternyata, dugaanku salah, mempunyai saudara kembar itu tidak enak. Setiap hari aku menjadi korban. Memang apa sih, yang salah dariku? Tanpa sengaja aku menendang sebuah buku diary Nandya. Lho, kok buku diary Nandya bisa ada disini? tanyaku dalam hati. Aku heran dan langsung mengambilnya. Diam-diam, aku membukannya. Sebenarnya, semua tidak boleh membuka buku diary ini, kecuali dirinya sendiri. Saat mau dibaca, hpku tiba-tiba berdering. Saat aku mengeceknya, ternyata ini pesan dari Keyli, my best friend in school. Dia mengajakku untuk kerja kelompok pukul setengah 3 siang. Berarti, sebentar lagi dong?! Aku langsung memasukkan tempat pensil, botol minum, dan buku tulis ke dalam tas kecilku.
"Ibu!" panggilku.
"Ada apa, sayang?" tanya Ibu.
"Ibu, aku mau ke rumah temanku ya, mau kerja kelompok" ucapku.
"Rumah siapa?" tanya Ibu lagi.
"Rumah Keyli, Bu. Ngomong-ngomong, aku minta ongkos untuk naik angkot. Soalnya rumahnya agak jauh" ucapku lagi.
"Oh, ya sudah. Nih" ucap Ibu sambil menyodorkan uang itu.
"Terima kasih, Bu. Aku bisa berangkat sendiri kok. Assalamu'alaikum" salamku.
"Wa'alaikumsalam." balas Ibu.
To Be Continue

