Welcome to my blog. Do Follow here. Thank you. ++Follow | Dashboard
All of Me





Kisahku Dengan Saudara Kembarku #3
Friday, November 14, 2014 | 2:23 AM | 0 comments
Setelah sampai dirumah Keyli, Farel meminta menceritakan tentang kegiatan kami di rumah. Aku bercerita panjang lebar kegiatanku dari pagi sampai sore ini.
"Saudara kembar kok, seperti itu sih? Harusnya akur dong, kayak Upin Ipin" Ledek Keyli.
"Ish, makanya itu, aneh kan?" tanyaku.
"Udah, mending, kita kerjain aja! Biar cepet selesai dan bisa main!" ajak Intan.
"Yuk!" seru kami semua
***
Jam 5 sore, selesai kerja kelompok, aku pamit pulang karena hari sudah sore. Pasti Ayah dan Ibu mengkhawatirkan keadaanku, kecuali Nandya. Akupun menaiki angkot berwarna hijau, warna kesukaanku. Setelah sampai di rumah, aku memberikan uang itu kepada sopir angkot dan berjalan pulang.
Sesampainya di rumah..
"Ayah!" aku memeluk Ayah. Ya, Ayah berjanji akan pulang sekarang dari Jepang. Aku sangat rindu Ayah yang sedari dulu bekerja 5 bulan.
"Nindya!" Ayah pun membalas pelukanku dengan erat. Nandya hanya diam merasa iri, saat itu Nandya tidak dipeluk.
"Ayah, kok tadi aku gak dipeluk?" tanya Nandya kecewa.
"Salah sendiri, tadi kamu gak nyambut Ayah dengan baik" ledek Ayah.
"Ayah jahat! Nandya lebih sayang Ibu!" Nandya menghampiri Ibu yang sedang menonton TV.
"Yah, kok, kamu gitu sih sama anak sendiri?" tanya Ibu.
Namun, Ayah tidak menjawab. Dasar kamu Nin, anak kesayangan Ayah! Keluh Nandya dalam hati.
***
Malamnya, makanan ikan bakar dihidangkan. Aku melahap makananku dengan cepat.
"Ibu, aku dengar-dengar, kalau melahap makanan itu harus 23x" ucap Nandya menyindirku.
"Lah, emangnya kamu saja yang tahu, Nan? Di kelasku juga udah pernah diajarin!" jawabku lagi.
"Terus, kenapa kamu melahap makanannya cepet banget?" tanya Nandya heran.
"Memangnya kenapa? Setiap makan kamu juga nggak pernah dihitung-hitung dulu, kan?" tanyaku lagi.
"Kamu berani ngelawan aku hah?" tanya Nandya ketus.
"Nandya!" Ayah menghentikan tangan Nandya yang hapir memukul pahaku.
"Ayah, kenapa sih, setiap ingin melakukan sesuatu kepada Nindya, pasti diberhentiin terus! Aku benci Ayah!" Nandya mengambil piringnya yang sudah habis ke dapur. Tumben-tumbennya dia mencuci piring tersebut.
Akupun diam dan membawa piringku ke dapur juga. Kulihat Nanda tergeletak di lantai. Hah? Nanda? Aku menggendong dia dan ku pegang detak jantungnya, ternyata dia sudah mati! Aku langsung berlari sambil membawa kucing itu ke Nandya.
"Nandya! Kamu apain sih kucing ini? Liat kan, dia jadi mati!" tegasku.
"Memang kenapa? Ada urusanmu sama kucing ini?" tanya Nandya dengan wajah tanpa dosa.
"Nanti, pemiliknya bakal marah karena kucingnya sendiri mati! Dasar tidak punya hati!" akupun menangis tersedu-sedu sambil memeluk kucing itu. Aku langsung membawanya ke kamar untuk menguburnya besok, di dekat halaman rumahku. tempat dimana aku menemukan kucing itu.
***
Keesokan harinya, aku tidak langsung sarapan, aku langsung meminta Ayah untuk menggali tanah untuk mengubur Nanda. Kebetulan Nandya belum bangun.
"Kucing siapa itu, Nin?" tanya Ayah heran.
"Kucing orang, tapi, kemarin aku rawat sementara. Tapi, sama Nandya malah direbut. Dan Nandya sudah membuat kucing ini mati!" keluhku.
"Nandya memang egois, apa saja yang kamu punya pasti direbut. Mungkin kucing ini tak diberi makan. Jadi, kamu sabar aja ya, Nin. Nanti Ayah belikan kucing persia buat kamu,  deh" senyum Ayah.
"Tapi, nanti direbut sama Nandya lagi deh" ucapku.
"Nanti Ayah juga belikan kucing persia buat Nandya kok. Jadi, gak ada yang iri" senyum Ayah lagi.
"Terima kasih, Ayah!" akupun langsung mencium pipi Ayah tanda terima kasih. Ayah memang orangtua yang terbaik dari Ibu. Ibu lebih membela Nandya daripada aku.
Selesai mengubur Nanda, aku langsung mendapati Nandya ada di meja makan.
"Kamu ngapain aja diluar sana sama Ayah?" tanya Nandya kepo.
"Ngegali kuburan Nanda. Padahal, yang seharusnya tanggung jawab kan kamu" jawabku tanpa menolehnya sedikit pun.
Nandya hanya tertawa kecil.

To Be Continue


Older Post | Newer Post