Kisahku Dengan Saudara Kembarku
Thursday, November 13, 2014 | 2:00 AM | 0 comments
Namaku Varisca Anindya Pertiwi. Panggilanku ada banyak. Bisa Varisca, Risca, Caca, Nindya, dan Tiwi. Tapi, aku lebih akrab disapa Nindya. Aku mempunyai saudara kembar, namanya Variska Anandya Pertiwi. Kami sama-sama berumur 10 tahun. Terkadang, kami sering bertengkar karena hanya masalah sepele. Mau tau bagaimana caranya teman-teman dan orangtua kami membedakan kami? Caranya membedakannya adalah:1. Aku sifatnya baik, rajin, ramah, pintar dan feminin. Sedangkan Nandya orangnya jutek, pemarah, galak, agak sedikit aneh.. dan tomboy
2. Aku mempunyai tahi lalat di pipi kiri, sedangkan Nandya mempunyai tahi lalat di pipi kanan
***
Di pagi yang cerah, aku membuka gorden kamarku. Diluar aku melihat banyaknya burung-burung yang sedang berkicau dan matahari yang begitu bersinar. Mungkin menyambutku yang baru bangun pagi ini. Aku melihat kearah jam dinding, tampaknya sudah jam 7. Namun, aku terlihat biasa saja, karena ini kan hari libur.
Aku berlari kearah lantai 1, tepatnya ruang makan. Aku disambut oleh Nandya dengan nada yang sedikit jutek.
"Hai" sapanya.
"Juga" jawabku.
Aku merasa agak sedikit gugup menjawabnya, tidak tahu mengapa. Lalu, Ibu pun memberikanku sepiring nasi goreng dan kerupuk. Aku sangat senang karena ini makanan yang kunati-nanti. Aku langsung melahapnya dengan cepat agar bisa cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Yah, biasalah. Aku kan gak mau Nandya masuk duluan. Kenapa? Karena dia itu mandinya lama! Coba bayangin aja, waktu jam 8 pagi dia itu kan mandi, dan selesai jam 10 pagi. Aneh kan? Itu kebiasannya dari kelas 1. Akhirnya, aku berhasil. Ternyata makananku telah habis. Aku menghabiskan minumku dengan cepat dan membawa piringku ke dapur. Hmm, nyucinya nanti aja, deh. Biar ibu saja! Ya, memang, setiap sehabis sarapan diwajibkan menyuci piring. Namun, tidak tersangka aku melanggar aturan, hehe.. Aku melihat kearah Nandya, dia tampak begitu kesal denganku. Apa boleh buat? Siapa cepat, dia dapat!
Selesai mandi, aku langsung mengambil handuk dan membuka pintu. Namun, aku kaget karena ternyata Nandya telah menunggu daritadi di luar.
"Lama banget, sih! Kesel!" ucapnya sambil menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
Kenapa sih, sifatnya enggak bisa berubah? Padahal, dia sendiri kan, mandinya lama! keluhku dalam hati.
***
Setelah mengganti baju, aku langsung pergi keluar rumah. Bermain ayunan. Tiba-tiba, aku melihat seekor anak kucing. Aku lalu mengambil dan memeluknya. Ternyata, dia kucing yang jinak! Kucing itu berwarna hitam putih. Tidak tau siapa yang memiliki kucing ini, namun dibawah kakinya ditempelkan kertas. Ada tulisan "Nanda" disitu. Oh, ternyata nama kucing ini Nanda. Aku ingin mencari pemilik kucing ini, namun, aku ingin sekali merawatnya. Makanya, aku merawatnya untuk sementara sampai pemiliknya kutemukan. Aku lalu membawanya masuk ke dalam rumah
***
Aku membawanya masuk ke dalam kamarku. Aku mencari kalung bekas, yang ukurannya sudah kekecilan. Aha! Akhirnya ketemu juga. Tepat sekali tulisannya "N", sama seperti nama depan kucing ini. Aku lalu memasangkan kalung itu ke leher kucingku. Saat dipasangkan, dia sangat lucu! Aku langsung memeluknya. Oh iya, 1 hal lagi, aku ingin sekali memasangkan bel ke kalungnya. Agar saat dia kabur dari rumah aku tahu. Aku lalu mengambil bel yang berbentuk bulat dan memasangnya di kalungnya. Oke, sudah selesai! Waktunya aku memberitahu hal ini kepada Nandya.
***
"Nandya! Sini dulu, deh!" perintahku.
"Apaan sih?" tanyanya kesal.
"Ayo masuk!" ajakku sambil menarik tangannya.
Nandya sangat terkejut melihat anak kucing tersebut.
"Kamu nyolong kucing orang, ya?" tanyanya.
"Bukan nyolong, tapi ngerawat sementara sampai pemiliknya aku temuin" jawabku.
"Oh.. boleh gak kucingnya aku taruh di kamarku?" tanya Nandya tersenyum lebar.
"Nggak ah.. aku yang nemuin, masa kamu yang megang" keluhku.
"Nindya! Berikan kucing itu!" perintahnya.
"Enggak mau!" jawabku.
To Be Continue.

