Welcome to my blog. Do Follow here. Thank you. ++Follow | Dashboard
All of Me





Kisahku Dengan Saudara Kembarku #4
Thursday, December 18, 2014 | 5:43 AM | 0 comments
Bagi yang mau tau part 1-3nya, cari aja. Nanti juga ketemu ;) Emang akhir-akhir ini lanjutannya jarang di post karena males
***
Setelah sarapan, aku tidak langsung mandi. Aku membiarkan Nandya duluan mandi karena hari ini aku malas mandi. Mengapa ya? Padahal, pagi-pagi begini kalau mandi pasti segar. Air dingin dan sabun wangi. Ditambah sabun dettol yang aku sukai. Namun, aku benar-benar memang tidak ingin mandi! Walau aku tidak tahu alasannya kenapa!
"Nindya, jam 10 pagi kita akan berangkat ke Pet's Shop, lho. Membeli kucing persia yang kamu pesan" ucap Ayah mengagetkanku sembari duduk di sampingku.
"Hah? Sekarang? Bukannya sekarang Ayah kerja, yak?" tanyaku mengingat-ingat.
"Tadinya. Tapi, sekarang Ayah izin" senyum Ayah.
"Ya ampun, Ayah. Tidak usah repot-repot. Kan, lebih penting kerja. Apakah Ayah tidak dipecat oleh bos Ayah?" tanyaku heran.
"Tidak kok, sayang. Besok Ayah akan masuk kembali. Ibu juga sudah mengizinkan, kok. Kita sekeluarga akan kesana" jawabnya.
"Tapi, Kakak belum selesai mandi, Yah" keluhku. Seharusnya tadi aku yang mandi duluan.
"Gak apa-apa kok. Kalau gak keburu sekarang, kesananya bisa siang / sore" jawabnya lagi sembari mengedipkan mata. Aku memeluknya tanda sayang
***
Jam 10 pagi tepat, Nandya baru keluar dari kamar mandi. Dia sangat menggigil karena air dingin yang telah mengguyurnya pagi-pagi ini. Aku langsung masuk ke kamar mandi dengan cepat tanpa menoleh kearahnya sedikit pun.
Setelah mandi, akupun langsung mengambil handukku dan menempelkannya kearah badanku. Memang air di pagi hari ini memang sangat dingin. Aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kakiku beku dan tidak bisa bergerak.
Aku langsung mengenakan baju lengan pendek berwarna pink tua, rok berwarna hitam putih, bando bergampar kepik berwarna merah, jam tangan juga sepatu hak tinggi berwarna hijau-putih. Aku langsung melihat Nandya yang berpakaian mewah dariku, semuanya serba emas. Tentu sudah ditebak siapa yang membelikannya, Ibu.
Aku sempat iri kepada Nandya. Dia menyindirku dengan memakai baju mewah itu. Ibu mencium pipi Nandya tanda bangga. Apa sih, perbedaan aku dengan dia? Wajah sama, warna kulit sama, tinggi dan berat badan sama. Tapi kenapa Ibu terlalu membela Nandya? Sedangkan aku hanya dibela oleh Ayah. batinku dalam hati. Aku berpikir, mungkin aku terlahir bukan untuk Ibu, melainkan untuk Ayah. Aku langsung berjalan kearah Nandya.
"Nandya, aku akui pakaianmu bagus. Dari detailnya juga bagus, designya juga bagus. Tapi, kamu harus hati-hati ya. Ini bisa menjadi marabahaya, lho" ucapku mengingatkan.
"Apa itu marabahayanya?" tanyanya ketus.
"Cara berpakaianmu itu lho, bisa mengundang para penjahat" ujarku.
"Apa kamu bilang? Kalo ngomong itu jangan seenaknya dong! Kamu mau aku diculik dan masuk penjara? Tidak akan kembali ke rumah ini lagi?" tanyanya lebih ketus.
"Maksudku, cara berpakaiannya jangan terlalu mewah. Banyak mata-mata lho di daerah sini" ucapku mengingatkan.
"Sudah ah! Menghabiskan waktu bicara sama kamu!" dia pun menyeretku dan menendangku hingga aku terjatuh. Aku terbentur dan ada bekas luka goresan di kakiku.
Aku bersedih dan mengambil es batu untuk mengeringkan darahku. Aku tidak ingin Ayah melihatnya. Kalau Ayah tau, kucing persia yang ku pesan tidak akan jadi dibelikan hanya karena luka goresan di kakiku.
***
Namun, dugaanku salah. Kami jadi berangkat. Ayah memberiku hensaplast dan memberi pesan kepadaku agar kalau Nandya menyeretku, aku kembali menyeretnya. Akupun mengangguk. Sesampainya di Pet's Shop, aku ke 'Cat's Room'. Disitu aku melihat berbagai jenis kucing. Ada kucing anggora, kucing persia, kucing liar yang galak, kucing harimau dll. Mataku tertuju pada sebuah kucing persia berwarna putih. Aku sangat terkagum karena bulu kucing itu sangat lembut, aku beri makan dia jinak. Namun, sayangnya Nandya menginginkan kucing itu. Dia menyuruhku untuk membeli kucing persia yang berwarna abu-abu.
"Kamu itu kenapa sih, Nan. Siapa cepat kan, dia dapat. Nindya kan yang dapat lebih dulu" ujar Ayah membela Nindya.
"Tapi Yah, sejak di perjalanan tadi aku sangat menginginkan kucing persia berwarna putih ini!" tegurnya. Ternyata dia berani bicara pada Ayah.
"Sekarang, aku punya 1 pertanyaan untuk Nindya. Mau pilih kucing persia abu-abu atau tidak dibelikan kucing persia?" tanyanya. Senyumnya sangat kejam seakan merasakan kemenangan. Memang, kucing persia berwarna putih hanya tersisa 1 jenis lagi. Sisanya kucing persia orange, abu-abu, hitam dan coklat.
"Ya sudahlah, aku mengalah. Daripada tidak mendapat kebahagiaan, lebih baik membeli kucing persia abu-abu itu" tundukku. Hidup memang tidak adil. keluhku dalam hati.
***
Sesampainya di rumah, aku melihat Nandya sangat senang dengan kucing indahnya itu. Dia membawanya jalan-jalan setiap hari, memberi makan, tidur bersama. Sampai-sampai di bawa ke sekolah untuk dipamerkan! Bagaimana denganku? Hanya memberi makan dan mendandani kucing milikku saja. Apa gunanya, kucing persia milikku berjenis kelamin laki-laki, bukan perempuan seperti yang dimiliki Nandya. Jadi susah untuk memberikan hiasan dan baju kepadanya. Ingin membeli aksesoris kucing pun tak bisa, belum cukup uangnya. Ada sih uang Ibu, tapi semua uang milik Ibu hanya diberikan untuk Nandya. Sedangkan aku? Tidak diberikan. Ayah sangat pelit dan menyayangi uangnya. Sungguh aku anak terlantar.
***
Keesokan harinya, masih hari libur. Aku tak sengaja hampir menendang kucing milikku yang kuberi nama "Riko". Tak tahu kenapa emosiku meluap karena kejadian kemarin. Air mataku bercucuran entah kenapa. Ingin keluar bertemu dengan Ayah, Ibu dan Nandya pun susah.
"Riko, maafkan aku ya. Akan kuambilkan sarapan untukmu. Kamu tunggu disini, ya? Jangan nakal, oke?" perintahku. Akupun langsung keluar dan menutup pintu kamarku.
Akupun ke gudang untuk mengambil Whiskas (makanan kucing). Sesampainya di kamarku, aku memberikannya kepada Riko. Kelihatannya Riko sangat lapar, karena makanannya cepat habis.
***
Siangnya, Nandya mengeluarkan sepeda miliknya dari garasi. Dia telah menyiapkan sebuah kotak berukuran sedang untuk menyimpan kucing miliknya (Rissa). Dia akan berjalan-jalan mengelilingi kompleks.
"Nan, kalo kucingnya hilang bagaimana? Kucing persia bagus begitu kan, kalo di bawa keluar cepat hilang. Ingat perkataanku tidak? Ada maling dan mata-mata disini" ucapku menakut-nakuti.
"Apaan sih kamu! Mau keluar saja tidak boleh! Minggir! Aku juga pasti tahu kamu iri karena melihat aku keluar bersama Rissa! Sedangkan kamu tidak bisa naik sepeda karena bannya meletus!" ucapnya tertawa ngakak. Air mataku bercucuran. Kugigit bibirku.
***
Di kamar, kuelus dan kupeluk kucingku Riko agar dia tertidur. Ku nyanyikan sebuah lagu merdu untuknya. Aku tahu, Riko tahu perasaanku. Namun, aku mendengar sebuah teriakan yang sempat mengagetkanku. Asal suaranya dari dapur.
"Ibu?! Ada apa?" tanyaku kaget sekaligus heran.
"Nin... saudara kembarmu nak, dia dirampok!" ujar Ibu ketakutan. Dia memelukku. Entah apa yang membuat aku dipeluk seperti ini oleh Ibu. 
"A... apa?! Bagaimana bisa, Bu?" tanyaku histeris.
"Entahlah. Tadi kata Bu Ester, Nandya lagi jalan-jalan keliling kompleks dengan kucingnya. Saat mendekati rumah gubuk, Nandya telah menghilang. Hanya ada sepeda pinknya dan kucingnya saja yang terletak di tengah jalan" jawabnya. Inilah saatnya beraksi melawan kejahatan! Walaupun kenyataannya aku tak sayang pada Nandya, tapi aku tidak boleh diam. Sesama saudara harus saling membantu!
"Ibu, aku pergi dulu ya! Aku janji tidak akan pulang sore" seruku sembari mengedipkan mata.
"Mau kemana nak? Ibu takut kamu mengalami hal yang sama seperti Nandya" serunya ketakutan.
"Justru itu Bu, aku akan menyelamatkannya" ujarku seraya berlari. Ibu diam terpaku. Tak pernah melihat diriku yang sangat seperti pahlawan ini.
***
Aku tahu dimana letak rumah gubuk tersebut. Kata orang-orang di daerah sini, itu markas para maling. Di tempat itu juga angker karena ada pohon yang bentuknya bungkuk. Saatku lihat, ternyata memang benar! Ada sepeda Nandya disitu! Namun, aku lihat ke dalam sebuah kotak tempat penyimpanan Rissa, tidak ada kucing itu. Kucari cari kucingnya, alhamdullilah. Ternyata Rissa ada di sebuah semak-semak memakan tulang ayam. Aku langsung menggendong kucing itu, yang sebelumnya milikku. Akupun langsung membawa sepeda Nandya dan mencari dimana Nandya sekarang.
***
Sesampainya di sebuah kebun, aku mendengar sebuah teriakan. Tunggu! Aku tahu suara itu! I.. itukan suara Nandya! Aku langsung menaiki sepeda Nandya dan menyimpan kucing itu kembali. Aku kan sudah mahir naik sepeda tinggi milik Nandya. Sesampainya di asal suara, ternyata Nandya diikat disitu! Dia terjebak dan tidak bisa keluar!
"Nindya! Mau apa kamu disitu? Sebaiknya, kamu tolong aku dan bawa aku dari sini!" perintahnya.
"Memang mauku begitu!" ucapku seraya berlari kearahnya. Aku mengambil pisau di dekat tubuh Nandya dan memotong sebuah tali tambang yang mengikat tubuh Nandya.
"Tunggu apalagi, ayo lari!" ajakku.
Kami pun berlari dengan kencang, hingga akhirnya sampai di rumah.
***
"Nandya sayang, makanya, kalo keluar rumah hati-hati. Jangan sampai seperti itu lagi. Ibu cemas tau memikirkan keaadanmu. Dan, Ibu juga sangat berterima kasih kepada Nindya karena sudah menjadi pahlawan di rumah ini" ucap Ibu menahan tangisnya. Ibu memeluk kami berdua.
"Iya Nin, tanpamu aku akan terjebak disana bertahun-tahun. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Mungkin, kita bisa akur. Dan aku serahkan kucing (Rissa) ini kepadamu!" ucapnya sambil menyodorkan kucing persia putih itu.
"Makasih ya, Nan! Kamu memang saudara kembarku yang terbaik! Aku tidak ingin meninggalkanmu!" seruku sambil memeluknya. Sayangnya, Ayah tidak melihat kejadian paling berharga ini.

Menjadi pahlawan itu yang terbaik. Kamu bisa melakukannya walaupun di bawah umur.

Older Post | Newer Post