In Your Dream
Monday, February 2, 2015 | 2:21 AM | 1 comments
Namaku Verlolita Nandika
Srikandi. Aku biasa dipanggil Lolita / Lita.Aku berumur 15 tahun.Aku mempunyai
2 orang adik, yang pertama perempuan, yang kedua laki-laki. Mereka itu sifatnya
hampir sama lho, walaupun mereka bukan twin. Maksudku, sifatnya sama-sama
menyebalkan! Adik pertamaku bernama Veronica Nandita Sriviani.Sedangkan adik
keduaku bernama Muhammad Arlika Candra.Adik pertamaku yang biasa dipanggil Dita
itu, kelas 1 SMP.Sedangkan adik keduaku kelas 5 SD. Mereka sering menjahiliku,
menakut-nakuti, sampai suatu tragedi menimpa mereka berdua.
Hoahm!
Pagi yang sangat cerah! Aku langsung turun dari ranjangku yang empuk dan
membereskan tempat tidurku.Kurapikan selimutku yang acak-acakan dan kasurnya
yang sudah hampir kusut. Kubuka gorden kamarku dan kumatikan jam weker yang
terus berdentang. Kupakai sandal lembutku dan menuju kearah ruang makan.
Di ruang makan, aku disambut
oleh Ibu, Ayah, dan kedua adikku.Ya, ini adalah hari libur yang panjang, dimana
aku baru menerima rapot.Aku langsung duduk di kursi yang telah disediakan oleh
keluargaku. “Kak Lita, aku nanti akan di belikan sepeda, lho. Gini-gini aku gak
mau kalah sama Kakak!” ledek Dita. “Oh ya? Nanti kita balapan sepeda, ya?!
Emang kamu sudah mahir naik sepeda?” tanyaku yang belum yakin.“Sudah, kok!
Waktu itu diajarin sama om Ferdick. Om Ferdick sudah memberitahu cara lebih
mudah agar mahir naik sepeda” jawab Dita. “Sepedanya kapan dibelikan? Warnanya
apa dan motif apa?” tanyaku kepo. “Entahlah.Bisa sekarang, besok atau lusa.
Mungkin lusa karena lusa Ayah libur. Warnanya pink dan motifnya bergambar hello
kitty” jawabnya bergembira. Raut wajahnya begitu senang seakan tahu dia akan
mahir sepeda. “Wah, kalau gitu, Kakak juga turut senang, dik!” ucapku.
Siangnya, pukul 12, aku
menyalakan AC karena matahari menyilaukan mataku dan membuatku
berkeringat.Adikku yang bernama Arli, asyik bermain game stick.Aku bosan dan beranjak ke kulkas untuk mencari makanan
yang dingin. Ternyata, dugaanku benar! Ada sedikit sisa pudding coklat di dalam
kulkas itu.Pasti Ibu menyisakannya untuk aku.Dengan senang hati, aku
mengambilnya dan memakannya diam-diam tanpa sepengetahuan adik-adikku. “Kakak,
lagi makan apa tuh?” tanya Dita dan Arli bersamaan. “Eh, nggak lagi makan
apa-apa kok, tadi Kakak lagi nempelin es batu ke bibir Kakak karena tadi bibir
Kakak terbentur tembok.Jadi, berdarah deh!” sahutku bohong.“Kok bisa terbentur
tembok?Lagi ceroboh, ya?” ledek Arli.“Sudah tau nanya!” keluhku yang sebenarnya
tidak ingin mengeluh.
Karena bosan, aku bersedia
untuk keluar bermain ayunan. Walaupun cuaca sedang panas, tetapi apa boleh buat
kalau keinginanku bermain ayunan? Sudah lama aku tidak bermain ayunan karena
direbut oleh kedua adikku.Namun, aku terdiam sejenak ketika melihat adikku
berdiri tegak seperti patung dekat gudang.Karena penasaran, aku
menghampirinya.“Kamu lagi ngapain, dik?” tanyaku heran.“Nggak lagi
ngapa-ngapain, kok!” dia pun berlari meninggalkanku.Aneh.Jangan-jangan, ada yang sedang dia rahasiakan?Pikirku dalam
hati.
Karena penasaran, aku
menghampiri adikku yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.Entah
sedang berdoa atau ketakutan.Akupun menoelnya bersamaan dengan Arli.“Dita, kamu
kenapa?Kamu sakit?” tanyaku. “Iya Kak, kakak kenapa?” tanya Arli. “Aku nggak
kenapa-napa kok, Arli dan Kak Lita.Perasaan dan pikiranku sedang aneh sejak
tadi” dia pun berlari kearah kamarnya.“Arli, kamu tahu apa yang sedang terjadi
dengan Dita?” tanyaku penasaran.“Aku nggak tahu apa-apa, Kak.Mungkin benar
perkataannya, pikiran dan perasaannya sedang aneh” jawab Arli.“Tapi, aku
teringat sesuatu.Katanya Dita anaknya indigo, bisa melihat setan dan mahkluk
gaib lainnya.Apakah sesuatu hal yang berhubungan dengan makhluk gaib terjadi
pada Dita?” tanyaku heran. “Entahlah, Kak. Tanyakan saja padanya langsung, aku
tidak mau ikut campur” jawab Arli sambil berlari kearah kamarnya. Aku semakin
penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sorenya, pukul 3, aku mengetuk
pintu kamar Dita, berharap dia mengizinkanku masuk.“Dita, ini Kakak.Buka
pintunya, ini urusan penting yang harus kita selesaikan sekarang juga”
perintahku sembari mengetuk pintu kamar Dita dengan kencang.Dita membuka pintu
dengan wajah menunduk.Wajah Dita terhalang oleh rambutnya yang panjang.Aku
sempat ketakutan, namun memberanikan diri masuk.“Dita, kamu ini kenapa sih?Kok
sifatnya aneh sekali? Ceritakan kepadaku sekarang juga! Aku tidak akan bilang
kepada siapa-siapa, aku berjanji. Kita kan Adik Kakak yang baik?” tanyaku
sembari tersenyum. “Dia akan datang… berjumpa dengan kita..entah berapa lama..
kamu akan jadi korbannya” ucap Dita. Hah?
Apa maksudnya? Kok nada bicaranya seperti itu?“Dita, maksud kamu apa sih?
Yang jelas dong! Kakak gak ngerti tau!” tegasku.“Dia… perempuan aneh.Perempuan
yang sangat menyeramkan dengan bola mata darah” saat berkata begitu, Dita
langsung pingsan. “Dit… Dit! Sadar, Dit! Dit!” akupun menggendong Dita, agar
Ibu dan Adik tahu tentang hal ini.
“Apa yang terjadi dengan
Dita?Kamu apai dia?Kenapa dia bisa pingsan?” tegas Ibu memarahiku.“Ibu… aku
berani sumpah kalau aku tidak meng-apa-apai Dita.Aku sudah bercerita panjang
lebar tentang kejadian Dita bahwa akhir-akhir ini sifatnya aneh dan misterius!”
jawabku.“Sudah! Kamu tidak perlu bicara apa-apa lagi! Harusnya Ayah tahu
tentang kejadian ini, agar kamu bisa dimarahi habis-habisan!” bentak Ibu. Aku
hanya tersenyum, dan senyum itu adalah senyum kebencian kepada Ibu.
1 jam kemudian, Dita pun sadar.
Matanya merah dan banyak bekas air mata di pipinya. Entah kapan dia menangis,
mungkin sebelum aku masuk ke kamarnya. “Dit.. Dita! Alhamdulillah kamu sadar!
Apa yang terjadi, Nak? Kenapa kamu bisa pingsan? Ini salah Kak Lita, ya?” tanya
Ibu menuduhku. “Ibu, sudah. Aku sudah menceritakannya kepada kak Lita, dan
apakah tadi Kak Lita tidak menceritakannya?” tanya Dita menoleh kearahku. “Aku
sudah menceritakannya, Dik.Hanya, Ibu tidak percaya dengan omonganku dan
menuduhku bahwa aku yang sudah membuatmu pingsan” keluhku. “Ibu?!” tanya Dita
ketus. “Hehe, maaf ya, Dita dan Lita” jawab Ibu malu.“Sebenarnya, wanita itu…
wanita itu adalah Viera, Bu” tunduk Dita.“Viera? Viera kan sudah meninggal 1
tahun yang lalu, Nak? Bagaimana arwahnya bisa kembali ke sini lagi?” tanya Ibu.
“Viera akan balas dendam kepada kita semua, karena saat dia meninggal, kita
tidak peduli dengan kematiannya. Dan mereka akan membalas kita dengan cara yang
tidak diketahui” ucap Dita menjelaskan. “Dit, kenapa sih, tadi Kakak nanya kamu
gak mau jawab?Kakak cemas tau melihat keadaanmu yang seperti itu.Kakak kira
kamu sakit, tahunya hanya masalah itu saja” keluhku.“Maaf ya, Kak.Aku tadi
masih ragu-ragu” jawab Dita.Aku memaafkanya.
Malamnya, ekspresi Dita menjadi
seperti semula.Dia kembali ceria dengan matanya yang sipit itu.Kami semua
sangat bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan Dita.“Ibu, Viera itu, siapa sih?Kok
Ibu bisa tahu dia telah meninggal 1 tahun yang lalu? Apakah itu saudara Ibu?”
tanya Arli. “Arli, dengar ya.Sebelum kak Lita, kamu punya 1 kakak lagi, namanya
kak Viera.Kak Viera sudah kuliah dan sebentar lagi menikah.Namun, disaat mau
menikah, Kak Viera meninggal akibat kecelekaan maut” jawab Ibu bersedih.Kami
semua menitikkan air mata, karena kak Viera adalah satu-satunya kakak paling
baik di rumah ini. “Hah? Lalu, disaat itu aku belum lahir, Bu?” tanya Arli
heran. “Tentu, sayang. Kamu ingin lihat foto kak Viera?” tanya Ibu sembari
tersenyum. Kami semua hanya terdiam.“Aku mau, Bu. Aku menyesal tidak tahu kak
Viera. Kenapa dulu Ibu tidak menceritakannya?” tanya Arli bersedih. Dia kira
hanya akulah kakaknya.“Itu karena Ibu masih ragu-ragu menceritakannya, Nak.Ibu
takut kamu sedih, begitu juga Lita, Dita dan Ayah” senyum Ibu.Kami semua
memeluk Ibu.
Sesampai di kamar Ibu, Arli
menanyakan sebuah 1 pertanyaan.“Ibu, kak Viera itu, sifatnya bagaimana? Dan
ciri-cirinya?” tanya Arli penasaran. “Kak Viera itu sifatnya ramah, baik,
sopan, kadang pemarah, rajin dan juga cantik.Setiap ada PR dia kerjakan sendiri
dan dia memasak sendiri disaat Ibu sakit.Ciri-cirinya kak Viera itu berkulit
putih, tinggi, suka memakai sepatu hak tinggi, mempunyai tahi lalat di pipi kiri,
berbulu mata lentik, matanya sipit seperti Dita dan juga berambut panjang
seperti kak Lita” jelas Ibu kepada Arli.“Oh, begitu ya, Bu. Aku semakin
penasaran melihat wajahnya itu” seru Arli.Ibu langsung memperlihatkan foto kak
Viera kearah Arli.Arli terkagum dan terpaku melihat wajah kak Viera yang begitu
cantik.“Ibu, aku percaya apa yang Ibu bicarakan.Kak Viera sungguhlah cantik,
dari tampangnya pun dia kelihatan pintar.Aku ingin sekali menemuinya langsung,
Bu” seru Arli sambil bersedih.Air matanya menetes saking terharu.“Sudah, Li.
Kamu tidak perlu bersedih.Di alam sana, kak Viera akan selalu sayang kamu” seru
Ibu mengelus dahi Arli.“Tapi, Bu. Aku kan sudah bilang, kak Viera akan meneror
kita” sambung Dita.“Dit, kamu itu jangan nakut-nakutin Arli, dong!Sudah tahu
Arli itu orangnya penakut” bentak Ibu pelan. “Tapi, Bu.. dia kan sudah tau”
tunduk Dita. “Ibu, jangan bikin perasaannya itu kambuh lagi, dong!Dia bisa
seperti tadi lagi!” seruku mengingatkan. “Iya, Ibu minta maaf” jawab Ibu.
Pukul jam 9 malam, kami semua
beranjak ke kamar kami masing-masing. Namun, pukul 12 malam, aku mendengar
suara sesuatu di dalam lemari pakaianku.Aku berpikir itu hanya kecoa, namun
suaranya kencang sekali seakan ada orang di dalam situ.“Siapa sih, yang berani
menggangu tidurku?!” keluhku.Aku memberanikan diri berjalan kearah lemari
pakaian. Saat dibuka, tidak ada apa-apa di dalam sana. Hanya terdapat pakaianku
yang masih utuh. Saat mau menutup lemari itu, aku melihat sebuah mata! Matanya
melotot kearahku dengan tajam dengan bola mata darah! Aku teringat perkataan
Dita “Perempuan yang sangat menyeramkan dengan bola mata darah”.Hah? Apa jangan jangan itu kak Viera?!Aku
langsung menutup lemari itu dengan kencang.Berharap dia tidak menggangguku
lagi. Saat akan tertidur, aku merasakan ada seseorang ikut tidur disampingku.
Saat aku lihat, Kak Vieraaaaa!!! Aku berlari sekuat tenaga dari kamarku, aku
berlari menuju kamar Ayah & Ibu. Sesampainya di kamar Ayah & Ibu, aku
membangunkan mereka. “Ibu, Ayah, Kak Viera datang! Dia ada di kamarku!” seruku.
“Ah, kamu bisanya bohong saja, Lit. Kak Viera kan, sudah ada di surga” keluh
Ibu.Ibu mengangkat selimutnya kembali.“Ibu, aku bersungguh-sungguh! Kalau Ibu
tidak percaya, mari ke kamarku! Aku berani sumpah, Bu!” tegasku.“Ada apa sih,
kok ribut? Hah? Lita?Kamu bangun tengah malam begini? Ada apa, Lit?” tanya Ayah
heran. “Ayah, arwah kak Viera, Yah.Ada di kamarku!” sahutku.“Arwah kak
Viera?Hahaha. Pasti kamu bohong, Kak!” jawab Ayah tidak percaya. Dia kembali
memejamkan matanya.“Ya sudah! Kalau Ayah dan Ibu tidak percaya, aku akan
kembali ke kamarku. Jika ada sesuatu terjadi denganku, jangan salahkan aku!
Salahkan diri Ayah & Ibu sendiri!” tegasku. Aku menutup pintu kamar Ayah
& Ibu dengan kencang. Hatiku sakit.Selama ini semua orang termasuk keluargaku
selalu mengira aku bohong.
Setelah hampir masuk ke kamar,
tiba-tiba badanku membeku.Kakiku juga ikut membeku.Aku tidak bisa menginjakkan
kakiku ke dalam kamar. Di dalam kamarku memang sangat gelap, tidak ada lampu
yang menyala sama sekali. Memang, lampu kamarku rusak dan orangtuaku belum
sempat membeli. Sudah tau kan, karena mereka pelit kepadaku. Namun, apa boleh
buat. Aku harus berani.Perlahan, kaki kananku masuk ke dalam kamar, lalu kaki
kiriku juga ikut masuk ke dalam kamar.Suasana di dalam kamar sangat
hening.Arwah kak Viera sudah menghilang dari mataku.Namun, aku tetap harus
waspada.Karena aku sudah mengantuk, aku menutup pintu kamarku kembali.Ku
rebahkan tubuhku ke tempat tidur, dan akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, aku terbangun
dari tidurku.Aku mengingat kejadian semalam, entah itu mimpi atau bukan, namun
itu memang bukan mimpi.Aku berjalan ke ruang makan dengan lunglai, aku biarkan
gorden kamarku masih tertutup, kubiarkan jam weker yang terus berdentang.
Sesampainya di ruang makan, aku
disambut oleh keluargaku.Saat Ibu & Ayah menyapaku, aku mengabaikannya
karena aku masih mengingat kejadian semalam. Aku tidak menoleh kearah Ayah
& Ibu sedikit pun, hanya menoleh kearah Dita dan Arli saja. Namun, wajah
Dita juga sepertinya begitu ketakutan/?.“Dit, wajah kamu kayak ketakutan gitu?
Ada apa? Semalam kamu tidak tidur, ya?” tanyaku memastikan.“Aku tidur kok, Kak”
jawabnya.“Lalu?Kenapa matamu merah dan bengkak seperti itu?” tanyaku heran.“Aku
tidak apa-apa, Kak.Percayalah padaku” jawabnya lagi.Dia melahap makanannya
dengan lunglai.Kali ini, yang lunglai bukan aku saja, tapi Dita.Aku sangat
geregetan ingin menanyakan hal kepada Ibu, namun aku ingin sekali
mengabaikannya. Namun, kali ini mulutku benar-benar sudah kesetrum! Baiklah,
sekali saja bertanya tidak apa-apa kan?!.“Ibu, apa yang terjadi dengan Dita?”
tanyaku.Namun, aku tidak melihat kearah Ibu.“Dita berkata, semalam dia kurang
tidur” jawab Ibu.“Lalu, kenapa tadi dia menjawab dia tidur?” tanyaku heran.Aku
menoleh kearah Dita.“Tidur itu artinya tidak tidur tepat waktu.Dia tidur pukul
1 pagi.Itu menyebabkan wajahnya mengantuk” jawab Ibu sambil melahap
makanannya.Kali ini, aku memberanikan diri menoleh kearah Ibu.“Ibu, kenapa
semalam Ibu tidak percaya dengan omonganku?” tanyaku kecewa.“Itu karena Ibu selalu
menyangka kau bohong” jawab Ibu tersenyum.“Ibu, maafkan aku karena sering
berbohong.Namun, omonganku yang semalam itu, kenyataan, Bu” jawabku.“Oh ya?
Lalu, sehabis itu apa yang terjadi?” tanya Ayah ikut-ikutan. “Tidak terjadi
apa-apa kok, Yah.Mungkin urusan ini hanya bisa diselesaikan oleh Dita” sahutku
seraya melahap makananku.
Sesudah mandi, aku menghampiri
Dita yang sedang menonton TV.“Dit, mau tidak Kakak ceritakan pengalaman Kakak
semalam?Seraaam sekali.Pasti kamu bisa mengatasinya” seruku. Namun, Dita tidak
merespon sama sekali. “Dit, kamu dengar Kakak ngomong atau tidak, sih?” tanyaku
heran.Aku mengguncangkan tubuh Dita dengan kencang.Lalu, perlahan dia
menatapku.“Apa yang ingin kau ceritakan, Kak?Aku siap mengatasinya” jawabnya
lunglai.“Semalam, arwah Kak Viera datang ke kamar kakak.Dia muncul di dalam
lemari pakaian kakak.Terus, saat Kakak tidur, arwah kak Viera ada disamping
kakak.Bagaimana caranya agar arwah kak Viera tidak meneror kakak lagi?” tanyaku
bingung.“Kak, asal Kakak tahu.Semalam, aku juga diteror.Namun, lebih
menyeramkan dari itu.Selama ini, aku kurang tidur karena itu.Kak Viera
benar-benar jahat, sampai dia memberikan jebakan untukku. Entah apa yang aku
perbuat kepadanya, namun dia begitu jahat padaku. Sayangnya, Arli tidak mengetahui
hal itu karena tidur” keluh Dita. Air
matanya mengalir.“Lalu, apa yang harus kita perbuat selama ini?Mengusir arwah
kak Viera?” tanyaku.“Aku tidak tahu. Kalau kita mengusirnya, arwah kak Viera
akan marah besar dan meneror kita dengan cara yang sadis” jawabnya. Kejam sekali kak Viera.Beraninya mengacaukan
hari indah adikku ini.Hari libur pasti selalu ada masalah, dan masalahnya rumit
diselesaikan.
Saat itu, aku mengajak Dita
menuju kamarku.Dita menanyakan apakah semalam arwah kak Viera ada di dalam
lemari pakaianku.Aku hanya mengangguk.“Bersihkan lemari pakaian ini, lalu
baju-baju ini harus disimpan di tempat yang aman sementara” sahut Dita memberi
saran.“Kenapa?Kenapa itu harus?” tanyaku heran.“Karena, kak Viera suka dengan
lemari pakaian yang bau, apalagi yang sudah berdebu. Kalau lemari ini
dibersihkan, barulah kak Viera tidak akan betah lagi disini. Lalu, tempat tidur
kakak juga harus dibersihkan.Minta Ibu mencucikan spray-nya” sarannya
lagi.“Rumit sekali ya, aturannya?Tapi apakah benar itu solusi yang terbaik agar
arwah kak Viera tidak datang lagi?” tanyaku.“Maybe” jawab Dita.“Pokoknya,
apapun yang terjadi, hanya beritahu padaku! Jika diberi tahukan kepada orang
lain, akan rumit masalahnya!” seru Dita sembari meninggalkan kamarku. Jantungku
dag-dig-dug.Punya adik yang indigo agak seram dan menyenangkan. Seram karena
tahu ada arwah atau makhluk gaib datang, menyenangkan karena bisa tahu apa
arwahnya.
Siangnya, aku menaiki ayunan.
Kali ini cuaca tidak panas dan hampir mendung, menandakan hujan akan datang.
Saat aku mengayunkan ayunannya, tiba tiba seperti ada yang mendorong ayunan
yang sedang kunaiki dengan kencang sehingga aku terjatuh.“Aduh, siapa sih, yang
mendorong?Sakiit” keluhku.Aku memeluk dan mencium kakiku yang terbentur
tanah.Sakit sekali.“Ditaaa!!Sini!” panggilku.Dita berlari kearahku. “Ada apa,
Kak?” tanya Dita. “Aku kan tadi sedang bermain ayunan, tiba-tiba seperti ada
yang mendorong ayunan itu.Lalu aku terjatuh.Dan saat aku menoleh ke belakang,
tidak ada orang sedikit pun” seruku.“Itu ulah kak Viera, Kak.Jangan naik ayunan
lagi ya?Berbahaya” saran Dita.“Terima kasih Dita!Kaulah adik yang terbaik!”
jawabku senang. Aku memeluk Dita dan
Dita hanya tersenyum. Aku sempat menyesal telah menyakiti dia sewaktu kecil
karena dia sering menjahiliku, kenyataannya dia adalah adik yang baik.
Akupun masuk ke dalam rumah.Akupun
menceritakan kejadian yang aku alami selama ini kepada keluargaku.Dita hanya
tersenyum.“Kak Viera itu baik atau jahat, sih? Cantik-cantik kok, suka
meneror?!” tanya Arli tegas. “Arli, kamu tidak boleh bilang
begitu.Kenyataannya, kak Viera itu baik, kok.Paling Lita dan Dita hanya
mengarang cerita” seru Ibu.“Ibu?!” tegas kami.“Ssut, Ibu hanya ingin
menenangkan Arli” jawab Ibu.Kami pun sedikit lega.“Tapi, kasihan kak Lita jadi
ada bekas lukanya, Bu” sahut Arli membelaku.“Arli, kamu nggak usah sedih. Yang
jatuh kan Kakak, jadi kamu gak perlu sedih, ya? Luka seperti ini bisa
dihilangkan dengan cepat, kok” jawabku seraya tersenyum.“Iya Kak, aku percaya
padamu” jawabnya seraya memberi jempol.
Malamnya, pukul 7, aku beranjak
ke meja makan. Aku sudah siap melahap hidangan nan sedap itu. Tahu kan? Yang
pasti ayam bakar. Hmm, yummy! Namun, setelah makanku habis, aku disuruh mencuci
piring oleh Ibu.“Biasakan aturan” perintah Ibu menunjuk kearah kertas yang
ditempelkan di tembok yang isinya adalah aturan di rumah.“Hehe, iya, Bu. Aku
siap sedia” jawabku memberi hormat.Selesai mencuci piring, aku mencuci tangan
di wastafel dapur.Sehabis itu, pergi ke kamarku dan mengambil buku diary-ku.Aku
ingin sekali menuliskan curahan hatiku di buku diary kesayangan ku ini. Isinya:
Kak Viera, kenapa Kakak tega melakukan hal itu
kepadaku dan adikku sendiri? Apa tidak cukup aku tidak menggangumu lagi? Apa
salah aku dan keluargaku sehingga kau meneror aku dan adikku terus? Apakah ini
rasa terima kasih kebencianmu untuk kita?Apa itu permintaan maafmu untuk kita?
Bagiku, itu bukan sebuah permintaan maaf. Melainkan siksaan semena-mena yang
tidak seharusnya dilakukan oleh orang beradab!
Selesai menulis semua itu, hatiku
merasa lega.Kini aku sudah merasakan tidak ada hawa arwah kak Viera disini.Aku
memanggil Dita.“Apalagi, Kak?” tanyanya.“Baca deh, curahan hatiku yang sudah
kutulis disini” perintahku.Dita membacanya dengan perlahan, dan mulutnya
bergerak.“Semoga, itu bisa membuat kak Viera pergi dari sini” baru saja berkata
begitu, jendela kamarku tiba-tiba terbuka sendiri.Lemari pakaianku yang sudah
aku kunci, kuncinya jatuh.Semua pakaian berhamburan.Tikus-tikus dan laba-laba
bermunculan di lantai juga dinding kamarku.Dita memelukku dengan erat. Aku
sudah tahu ini perbuatan siapa, sudah pasti itu perbuatan kak Viera! “Ayo Kak,
kita pergi dari sini! Langsung beritahu hal ini kepada Ayah & Ibu!”
perintah Dita. Aku langsung mengangguk dan menggandeng tangan Dita.Sesampainya
di ruang tamu, kami ngos-ngosan dan mereka semua menoleh kearah kami. “Dit,
Lit, kenapa kalian ngos-ngosan begitu? Kalian habis ngapain?” tanya Ibu &
Ayah heran. Arli masih asyik bermain game
stick.“Ibu, Ayah, ayo ke kamarku sekarang! Sesuatu hal buruk terjadi!”
perintahku seraya menarik tangan Ibu.Dita menarik tangan ayah.“Hey, aku juga
ikut!” seru Arli.“Arli, kamu tidak boleh ikut.Ini berbahaya untuk anak kecil
sepertimu” seruku.“Kak, aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah kelas 5 SD!
Sebentar lagi juga SMP!” tegas Arli.“Ya sudah, tapi kamu berjanji untuk
menunggu di luar kamar, ya!” perintahku.“Aku janji, Kak!” jawabnya.
Sesampainya di kamarku, Ibu kaget
melihat kamarku berantakan.“Lita, kamu jorok sekali! Kamar sendiri tidak
dibersihkan! Jangan minta Ibu untuk membersihkannya!”
tegas Ibu.“Ibu, semua ini bukan aku yang lakukan, tapi arwah kak Viera”
jawabku.“Ulah kak Viera? Sudah berapa kali Ibu bilang kalau arwah kak Viera itu
tidak ada! Dia sudah tenang di alam sana!” tegas Ibu lagi.Namun, kami semua
terlonjak melihat wajah Dita yang menyeramkan.Dia seperti kesurupan.Dia
mengepalkan tangannya dan membuka mulutnya “Kalian memang tidak punya
hati.Tidak menganggapku sebagai keluarga. Kematianku juga kalian abaikan! Apa-apaan
itu! Dasar kurang ajar!”Dita langsung menonjokku.Arli bersembunyi di belakang
Ibu. “Dit, Dita! Apakah ini kamu?Teganya kamu melakukan ini kepadaku!” sahutku.“Ya,
itu tega!Kau ingin mendapatkan tonjokan lagi?! Hyaaa!!” namun, Ayah
menghentikan tangan Dita yang hampir menonjokku. “Aku tahu kau bukan Dita,
melainkan Viera” seru Ayah.Wajahnya menunduk dan matanya merah seketika.
“DARI MANA KAU TAHU?! JADI SELAMA INI
KAU BARU MENYADARIKU? AWASKAN TANGAN MENYEBALKANMU ITU!” perintah arwah
Viera.“Ayah, Ayah indigo?” tanyaku heran.“Ya, Dita keturunan Ayah. Namun,
selama ini Ayah ingin merahasiakannya, nanti kau tambah takut, begitu juga
Arli” jawab Ayah jujur. “Ayah, tega-teganya Ayah berbohong padaku” seruku.
“Maafkan Ayah, sayang. Ayah melakukan itu artinya Ayah sayang padamu” jawab
Ayah. “Iya, aku tahu itu, Ayah” jawabku seraya tersenyum. Tiba-tiba, Dita
terjatuh ke lantai. Kami semua langsung menolongnya dan mengguncangkan tubuhnya
berharap dia sadar. “Dit, Dit, sadar Dit!” teriak kami semua. “A.. aku kenapa?”
tanyanya heran. “Dit, tadi kamu
kerasukan arwahnya kak Viera,” jawabku memberi tau. “Ar.. arwah kak Viera?
Dasar kak Viera! Apa sih maunya dia?!” setelah Dita berkata begitu, tiba-tiba
vas bunga yang ada di ruang tamu pecah sendiri, dan yang lebih mengejutkan,
ruangan jadi gelap seketika! “A... ada apa ini? Kenapa vas bunga bisa pecah
dengan sendirinya? Dan kenapa semua lampu di ruangan ini mati?” tanya Ayah.
“Apa kak Viera dendam kepada kita?” Ujarku. “Hus, tidak boleh bilang begitu.
Mungkin, vas bunga itu pecah karena ada kucing, dan semua ruangan ini mati
karena adanya mati listrik” senyum Ibu menenangkan kami semua. “Tapi,
memangnya, ada kucing masuk ke rumah kita? Pintu ruang tamu kan, di kunci.
Jendelanya juga?” tanyaku makin bingung. “Mungkin, kucing itu masuk lewat pintu
belakang yang pintunya tidak ditutup” tebak Ibu. Aku hanya terdiam. Pasti Ibu
hanya sengaja berkata begitu supaya bisa menenangkan Arli, tapi Ibu juga pasti
tahu kalau yang melakukannya memang benar-benar kak VIERA!.
Ketika aku sedang
tertidur lelap, aku tiba-tiba terbangun. Aku merasa tubuhku sangat kedinginan.
Oh ya, pantas saja aku tidak memakai selimut. Aku langsung menarik selimutku
dan melanjutkan tidur. Namun, aku terkageti oleh buku-buku koleksiku yang sudah
tersusun rapi tiba-tiba berantakan lagi! Kok
bisa jadi berantakan? Bukannya tadi sebelum tragedi kerasukan Dita itu, bukuku
masih rapi? Ini sih tidak mungkin kucing, kecoa, tikus, nyamuk atau cicak! Aku
langsung turun dari ranjangku dan merapikan semua buku-bukuku. Aku heran, kok
bisa ya? Namun, a..aku tau... ini pasti ulah... kak Viera!
Setelah merapikan
semua buku tersebut, aku langsung duduk di ranjangku. Kenapa kepalaku tiba-tiba
menjadi pusing ya? Aku pun langsung rebahan
di ranjangku kembali sambil memeluk guling dan selimut. Namun, tiba-tiba
hpku berbunyi, yap, berbunyi tandanya ada telepon dari seseorang. Aku langsung
mengangkatnya sambil memegang kepalaku yang pusing. “Halo, Assalamu’alaikum.
Ini siapa, ya?” kataku. Namun, tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara gaduh 2
perempuan yang sedang marah dan menangis. “Halo, halo? Ada apa ya?” tanyaku
heran. Namun, tidak ada jawaban sedikit pun! Karena ketakutan, aku langsung
mematikan telepon tersebut. Mungkin salah
sambung, pikirku. Aku langsung menaruh hpku kembali keatas meja belajarku.
Sehabis itu, menutup wajahku dengan selimut. Namun, aneh! Tiba-tiba tercium bau
amis di kamarku! Aku langsung membuka selimut tersebut dan menyalakan lampu. Kok bau amis ya? Perasaan aku belum haid,
deh. Heranku. Aku langsung melihat ke kanan-kiri, namun tidak ada
siapa-siapa di dalam kamarku. Aku langsung jadi berpikir negatif. Jangan-jangan, ada tamu tak diundang datang
kemari! Pastilah kak Viera! Aku langsung buru-buru keluar dari kamar,
karena aku merasa aku mengalami kejadian aneh sejak tadi!
Aku langsung
berlari menuju kamar Dita. Sesampainya di kamar Dita, aku langsung menyalakan
lampu dan mengguncang tubuh Dita dengan pelan, karena disampingnya ada Arli
yang sedang tertidur lelap. “Dit, bangun dulu, Dit! Aku ingin memberitahu sesuatu!”
perintahku. “Hoahm... beritahu apa sih, Kak? Jam berapa sekarang? Aku masih
ngantuk, hoahm..” Dita terus menguap. “Cepat ke kamarku dulu! Kamu pasti akan
tahu siapa penyebabnya!” akupun langsung menarik lengan Dita ke kamarku. Dita
bingung dengan apa yang terjadi.
Sesampainya di
kamarku, aku langsung menyuruh Dita masuk duluan ke kamarku. “Bau apa sih ini,
Kak? Kayak bau amis, ya?” tanyanya. “Ya makanya itu! Kakak juga bingung!”
keluhku. “Kakak lagi haid kali, sono
bersihin dulu, bisa-bisa tamu tak diundang datang lho” ucapnya
menakut-nakutiku. “Dek, kakak serius! Kakak gak haid! Nih, periksa aja! Kalau kakak lagi haid, ya kakak juga ngerasain dong!” tegasku. “Masa’?
Jangan-jangan...” baru saja berkata begitu, ada suara tawa cekikikan! Dan asal
suaranya dari belakang kami. “Di...Dit... si, siapa ya, yang ketawa cekikikan
begitu?” takutku. “Entah Kak, coba aku lihat dulu, ya” jawabnya. Saat Dita
melihat ke belakang, SESOSOK WANITA TINGGI DENGAN BAJU PUTIH BERDIRI DI DEPAN
KAMI! RAMBUTNYA PANJANG TERURAI DENGAN BEKAS CAKARAN DAN DARAH DI PIPINYA!
KUKUNYA TAJAM DAN MATANYA TIDAK PUNYA BOLA MATA! GIGINYA TAJAM SERTA LIDAHNYA
MENJULUR! Dia pun membuka mulutnya seakan mau bicara, dan ternyata dia memang
mau bicara! “Hai, adik-adik kakak yang manis, mau merasakan masuk surga? Yuk,
sini peluk kakak dulu!” ucapnya. “Kak Viera?! Mau apa kakak kesini?” tanya kami
gugup. “Mau mengajak kalian bermain! Tenang, Kakak gak akan ngapa-ngapain
kalian kok, kan, kakak sayang kalian!” senyumnya. Dita mulai angkat bicara
dengan mata melotot. “SAYANG? APA ITU ARTINYA SAYANG? KAKAK SUDAH MERASUKI
TUBUHKU DAN MEMBUAT SEMUA KELUARGAKU KETAKUTAN, APA ITU YANG NAMANYA SAYANG?!”
tanyanya kencang. “Hahahaha, kalian berani bicara kepada kakak, ya? Tidak
masalah, kakak akan tetap menyayangi kalian!” tiba-tiba, dia hilang seketika.
Kami semua tenang, apalagi aku lebih tenang dengan ucapan Dita. Tiba-tiba...
ADA YANG MENCEKIK KAMI DARI BELAKANG! CEKIKANNYA KENCANG SEKALI! KAMI SEMUA
TIDAK BISA BICARA DAN BERNAFAS LAGI! “K...kukk..ka..kkak... apa yang
kkk..akkka.. lakukan?” tanya kami. “Oh, kakak tidak melakukan apa-apa kok! Ini
hanya ucapan terima kasih kepada kalian karena kalian tidak SAYANG lagi pada
KAKAK!” tiba-tiba, cekikannya lebih kencang, dan kami sudah tergeletak pingsan
di lantai.
Keesokan paginya,
ketika aku membuka mata, aku sudah mendapati diriku ada di kamar ayah &
ibu. Aku bertanya, mengapa aku bisa ada disini. Ayah dan ibu menjelaskan bahwa
semalam aku dan Dita tergeletak di lantai. Tiba-tiba, aku teringat kejadian
semalam. Aku mulai berbicara. “Ibu, ayah... sekarang kalian harus percaya
padaku dan Dita. Walau aku bukan anak indigo, tapi aku bisa melihat arwah kak
Viera. Arwahnya seram, lalu dia mencekkik kami, dan ibu bisa lihat kan ada
bekasnya di leherku?” tanyaku sembari menunjuk kearah leherku. “Apakah itu
benar, nak? Kamu tidak mencekik dirimu sendiri, kan? Arli cemas karena tadi
pagi tidak ada Dita disampingnya” jelas Ibu. “Makanya itu Bu, ayo kita pindah
dari sini, agar arwah kak Viera tidak menggentayangi kita lagi. Mungkin, rumah
ini akan menjadi tempat tinggal nyamannya” senyumku. “Tapi, nanti kita harus
tinggal dimana?” tanya ayah bingung. “Kita tinggal di rumah nenek & kakek
saja, kan, jaraknya tidak terlalu jauh
dari rumah kita.” Jelasku. “Baiklah, tapi, nanti ayah & ibu
rencanakan dulu, ya. Sekarang, tugasmu adalah menyadarkan Dita dan menemani
Arli & Dita, ya” pesan Ibu. Aku mengerti dan mengangguk.
Setelah itu, aku
langsung membuka mata Dita, aku mencium pipinya, dan akhirnya dia sadar. “Dita,
akhirnya kamu sadar juga! Kamu ingat tidak, kejadian semalam?” tanyaku cemas.
“Kejadian semalam? Apa kejadiannya? Ayah & ibu mana?” tanyanya yang matanya
masih terlalu sipit. “Kamu tidak ingat sewaktu kita dicekik oleh arwah kak
Viera itu? Oh ya, ayah & ibu ada di ruang tamu, sedang membicarakan
kepindahan kita” jawabku. “Ooh... memang kita jadi pindah? Kalo iya, itu bagus.
Aku bosan digentayangi terus oleh si menyebalkan itu” ejeknya. “Hus, jangan
ngomong begitu! Kalau kita didatengin lagi, gimana?” sentakku. Tiba-tiba,
tercium aroma melati dan bau amis lagi! Dita dan aku sudah menduga-duga, ini
pasti kerjaannya kak Viera! “Tuh kan, kamu nggak nurut sih sama aku!” sentakku
lagi. “Kak Viera itu kupingnya jeli sekali, sih! Aku Cuma bilang gitu doang,
dia denger! Kesal!” baru saja ingin mencubit pipi Dita, ada yang mencubit
pipiku dan Dita duluan! Kami langsung kesakitan sambil menjerit-jerit!
“Aoww...aow... sakit! Siapa sih? Sakit banget!” keluhku. “Ada apa, Dit, Lit?
Kok pipi kalian merah?” tanya Ibu dan ayah panik. “Ibu, ayah! Ada yang mencubit
pipi kami! Tidak tau siapa!” jerit kami kesakitan. “Ayo cepat pergi dari sini!
Tempat ini sudah bahaya sekali untuk kita! Dan sebaiknya kita tidak menjual
rumah ini, karena penghuni baru disini akan tidak betah disini!” kami langsung
pergi dari rumah kami tersayang, dan mencari kontrakan baru.
Sesampainya di
sebuah rumah 2 kamar, kami pun memutuskan untuk ngontrak disitu. Rumahnya
tenang dan dingin. Suasananya sejuk, dan seperti biasa ayah membuatkanku ayunan
dari kayu. Kami pun bersenang-senang disana, dan kami tidak pernah diganggu
oleh arwah kak Viera lagi, karena arwahnya sudah tenang di tempat yang kosong
penuh kenangan itu.
The End

